putus cinta

Mengatasi Stress dan Depresi setelah Mengalami Putus Cinta

Diposting pada

Tentunya putus cinta menjadi sebuah dilema, yang mana putus dari hubungan cinta secara tidak diduga membuat banyak orang merasakan stress bahkan bisa dpresi. Maka tak ayal juga ketika seorang banyak yang bunuh diri, dikarenakan cinta yang tak sampai dan berakhir bahagia, yang lebih parah adalah ketika seseorang itu merasakan Philopobia, yang mana kalian akan takut sekali dengan yang namanya jatuh cinta. Saya akan memberikan sebuah pengalaman menarik saya sendiri. Dalam Mengatasi hal yang pasti manusia alami, namun setiap orang berebda-beda tergantung cinta mana dulu yang dirasakan apakah cuman sekedar cinta monyet, atau sekedar cinta yang murni dari hati ke hati.

Mengenali Diri Sendiri Saat Putus Cinta (Akar Permasalahan)

Mencari apa perubahan, mengenali diri sendiri, saya kemarin hampir gila ketika putus cinta, karena baru merasakan jatuh cinta sedalam ini, hampir sebulan saya stress dan mengurung diri agar tidak ketemu dia. Alasan kita putus hubungan cinta bukanlah hal rumit sih cuman dia bilang “Aku sudah mati rasa, dan rasaku yang dulu hilang sekarang” itu yang membuatku tertampar karena tidak diberi ruang untuk komunikasi dan memutuskan sesuatu. Karena dalam hubungan pria dan wanita wajib untuk saling komunikasikan hal seperti ini, sakit memang, mungkin ini karena saya terlalu berharap lebih kepada dia, mengingat umur saya yang sebentar lagi mencapai 30 tahun (tekanan keluarga pengen punya cucu), tetapi belum memiliki pasangan, saya berharap dia adalah cewek yang bisa saya harapkan sebagai pasangan hidup saya, semakin kuat saya berdoa agar dia mau untuk menikah secepatnya, ternyata Tuhan memisahkan kita lebih cepat yang kita duga, dia bilang menghilangkan perasaanya untuk saya.

Lalu saya mencari tahu kenapa ini bisa terjadi, kenapa rasa cinta dan ketertarikan kepada saya seakan memudar dari dirinya, dan jawabannya adalah satu bro, “Kita tidak bisa memimpin Perasaan Kita Sendiri”, loh kok gitu? yappp betul, saya baru ingat dia menyukai saya, bukan karena clingy, kekanak-kanakan, apalagi manja karena seperti anak kecil (walaupun dia bilang suka hal itu, mungkin yang dia maksud tidak setiap hari melulu kaya gitu). Tapi saya mencari tahu kenapa dia menyukai saya di awal, syaa memiliki sikap yang PD, Kepemimpinan, Cerdas dalam mengatur emosi dan Mengeluarkan vibes positif kepada banyak orang di sekitar, sehingga membuat dirinya tertarik. Tetapi, sayangnya sifat saya berubah semenjak saya jadian sama dia, saya menunjukan pribadi yang terbalik (seperti yang disebutkan tadi), seakan kebahagiaan saya berada di tangan dia, dan itu juga yang bisa men-trigger wanita bisa tidak sayang lagi sama kita. Lah kok gitu ? Karena pada dasarnya wanita itu perlu dibimbing, dibina, dan diatur (dalam artian bukan ngatur kek jangan jalan sama siapa ya, nah itu yang dilakukan saya kemarin). Jadi lebih tepatnya, jiwa pria sejati dan bahagia dengan kesendirian saya hilang. Soalnya saya pas semenjak sama dia jadi agak melunak dan kaya bukan diri saya sendiri yang pertama dia kenal, karena dirinya merupakan seorang yang dominan dan saya juga dominan, nah dia tuh butuh orang yang lebih dominankan, salahnya saya malah jadi membutuhkan dia itu kebodohan saya ketika cinta tidak dibarengi dengan logika (Seharusnya saya fokus dengan karir yang saya jalani dengan berfikir berjodoh syukur kalo enggak ya gpp).

Balik lagi ke cerita saya~

Pas awal-awal saya sangat dominan, bahkan saking dominannya saya sampai dikejar, kalo saya sedang sibuk atau berfokus melakukan suatu hal, dan tidak menghubungi dia pasti sangat merasa kehilangan ditambah ngambeknya khas cewek-lah ya. Tapi semenjak saya menerima cinta dia, perbuatan saya dan prilaku saya berbanding terbalik dibandingkan dengan awal mengenalnya (bahkan teman-teman sayapun merasa ada hal aneh dengan diri saya), singkat cerita beberapa bulan berlalu, saya jadi tipe pencemburu, padahal mantan pacar saya ini lagi sama temannya, di awal saya gak peduli dia sama siapa, karena saya tau karena pasti dengan temen satu kantor yang cewek juga. Namun karena beberapa hal, saya menjadi bersikap obsessive, Protectif dan merasa mengekang dia karena saya takut kehilangan bahkan tiap jam saya menghubungi dia, sekalipun lagi kerja. Saya jadi membutuhkan dia. kalo ada apa-apa suka ngambek gak jelas, kalo dia chat lama. Intinya pada saat itu, saya memang seakan dibawah dia dalam hal dominasi, jadi saya lebih kek cewek bahkan lebih perasa dari dia, banyak drama demi perhatian dia dll.

Padahal saya rasa sebelum dengan dia saya telah menjalani hubungan dengan wanita lain tetapi rasionalitas saya masih jalan, tidak demikian. Bahkan mereka tidak mau putus dan ingin memperjuangkan saya buat dapet restu ortu mereka (karena waktu itu saya sering ditolak karena gaji masih dibawah UMR Jakarta).

Tetapi kisah cinta kemarin, membuat saya berpikir kok bisa dia menjauhi saya dengan alasan tidak ada rasa, padahal yang namanya hubungankan saling memperjuangkan, pasti ini ada yang salah, munculkah OVT, Nethink, menyalahkan diri sendiri, ya kek sikap wanita lah bahkan saya sampe nangis, gak makan dan gak bisa tidur, aura sayapun hilang, dan tidak ada yang berani dekati saya bahkan untuk sayhello. Jangankan ada wanita yang mau mendekat, menolehpun tidak dengan aura vibes saya yang negatif ini.

Saya berpikir banyak hal, dari dia yang salah, atau temennya ngadu domba (karena sebelum saya putus ada masalah dengan temannya ini), namun setelah ditelisik lebih dalam, alasannya cuman satu ternyata “Kita yang berubah ke arah yang lebih buruk” yang membuat “kenapa cinta dan sayang kepada saya hilang?”, karena wanita itu punya sifat perasa yang kuat dan gak bisa dijelaskan, sedangkan pria mengandalkan instict berburu. Nah, Tentunya jika instict berburunya hilang, pria akan tidak memiliki makna. Malah waktu itu saya jadi sebaliknya, jadi saya yang kek butuh buat dilindungi karena waktu itu sering down dan kebanyakan curhat hampir setiap hari, tapi jarang sekali dia mendengar berkeeluh kesah dengan pekerjaanya, malah saya nanya, “kenapa kamu sekarang jarang curhat?”, dia bilang “gapapa, gak ada yang menarik aja” dan setelah saya telaah ternyata sudah diwakilkan oleh saya, jadi mungkin dia yang butuh perlindungan malah mau melindungi saya. Seharusnya saya dong yang melindungi dia. Emang cinta tanpa menjalan logika itu, bisa merusak hubungan, jangan asal bilang nyaman dan ya you knowlah akhirnya.

Setelah satu bulan saya terus merenung, berpikir mencari jawaban dan titik masalahnya, ternyata ada di diri saya sendiri, jadi wanita itu lebih peka terhadap perasaan dan prilaku saya yang mulai sudah jauh dari jati diri sendiri. Mungkin dia masih sayang, tapi dia tidak mau dengan orang yang membuat menjauh dari tujuan hidup saya, dan takutnya dia menjadi salah satu alasan kenapa saya menjadi pribadi yang berbeda, dan seakan membutuhkan dia selalu. (berpikir positif lah intinya)

Alhasil mungkin dia memutuskan saya dan menawarkan menjadi teman saja (Tapi saya menolak, karena ego tinggi), dan mulai bangkit dari itu, dan menjadikan pribadi sendiri, karisma, aura positif, semangat dan pikiran saya yang dahulu lagi kembali. ( Membangkitkan Auman sang Singa Jantan di Hutan Rimba)

Inti dari cerita ini adalah, kita harus menerima dan bangkit menjadi pribadi sendiri, kita harus mengetahui ambisi kita sesungguhnya, arti dan makna hidup kita sendiri di dunia, bukan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, karena belum tentu orang lain peduli dan mau membantu kita bangkit, kalo kitanya sendiri terus down.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *