alasan perempuan hidup lebih lama
Created by yasobi

Mengapa Perempuan Hidup Lebih Lama dibandingkan Laki-laki?

Diposting pada

Perempuan mengalami stres yang lebih tinggi, lebih banyak penyakit kronis, lebih banyak depresi, lebih banyak kecemasan dan lebih besar kemungkinannya menjadi korban kekerasan. Perempuan berpenghasilan lebih rendah dibandingkan laki-laki, dan di banyak negara mereka tidak mempunyai hak asasi manusia yang sama dengan laki-laki.

Meskipun perempuan mengalami kesenjangan sosial, mereka hidup lebih lama dibandingkan laki-laki. Hal ini terjadi tanpa kecuali, di semua negara. Bahkan di negara-negara dengan kesenjangan upah yang lebih besar atau kesenjangan gender yang ekstrim, perempuan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki.

Berikut di bawah ini terdapat alasan mengapa wanita hidup lebih lama dibandingkan pria/

  • Wanita Lebih Sadar Akan Kesehatan

Penelitian telah menunjukkan bahwa, secara umum, wanita lebih sadar akan kesehatan, dan mereka memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap gejala fisik dan mental yang mereka alami. Semua ini menghasilkan gaya hidup yang lebih sehat dan penggunaan layanan kesehatan yang lebih baik. Wanita juga berkomunikasi lebih baik tentang masalah mereka, sehingga membantu proses diagnosis.

Laki-laki kurang patuh terhadap pengobatan. Masalah-masalah ini secara kolektif menyebabkan laki-laki rentan terhadap kegagalan terapi.

Maskulinitas adalah sebuah konstruksi yang dipelajari secara sosial, dan dapat menimbulkan dampak yang tidak sehat. Banyak laki-laki yang mendefinisikan perilaku tidak sehat dan berisiko sebagai perilaku maskulin, sementara mereka memandang penggunaan layanan kesehatan dan perilaku yang meningkatkan kesehatan sebagai perilaku feminin.

Sebagai contoh laki-laki banyak yang merokok meskipun awalnya tidak merokok karena ingin terlihat maskulin dan takut disebut cupu oleh mereka yang merokok dan gemar minum alkhol. Dan banyak laki laki yang mengabaikan kesehatan kulit seperti penggunaan skincare karena dianggap perbuatan yang feminim.

  • Perilaku Berisiko Dan Pencarian Sensasi

Testosteron menempatkan laki-laki pada risiko secara biologis, namun juga menempatkan laki-laki pada risiko secara perilaku. Hal ini meningkatkan agresivitas, dan, dalam efek berjenjang, mengakibatkan tingkat kematian yang lebih tinggi akibat kecelakaan dan pembunuhan.

Perempuan secara sistematis melebih-lebihkan risiko apa pun, sementara laki-laki selalu meremehkannya. Pola ini telah diamati terlepas dari konteksnya. Hal ini mencakup contoh-contoh mulai dari menyeberang jalan hingga persepsi risiko gunung berapi, merokok, atau serangan teroris. Di kalangan pejalan kaki, laki-laki lebih banyak melanggar peraturan dibandingkan perempuan. Di kalangan pengemudi, laki-laki lebih sering melanggar peraturan.

Kecelakaan, seperti tabrakan kendaraan bermotor, lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan oleh laki-laki yang lebih berani mengambil risiko, terlalu meremehkan risiko, mencari sensasi, dan cenderung lebih impulsif.

Perbedaan ini meluas ke hampir semua tugas dalam kehidupan nyata. Hal ini sebagian menjelaskan mengapa perempuan melakukan internalisasi dan laki-laki melakukan eksternalisasi (yang memerlukan persepsi risiko yang rendah).

Penggunaan narkoba juga lebih umum terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Meskipun kesenjangan tersebut semakin mengecil, menurut sebuah penelitian pada tahun 2011, laki-laki 2,2 kali lebih besar kemungkinannya untuk menyalahgunakan narkoba dibandingkan perempuan, dan 1,9 kali lebih besar kemungkinannya untuk mengalami ketergantungan narkoba.

Di antara mereka yang mempunyai masalah penggunaan narkoba, laki-laki cenderung memiliki masalah yang lebih parah, yang ditandai dengan frekuensi penggunaan, penggunaan lebih dari satu zat dan perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba suntikan. Laki-laki yang mempunyai masalah penggunaan narkoba mencari perawatan lebih lambat dibandingkan perempuan. Laki-laki juga lebih sering mengemudi di bawah pengaruh obat-obatan dan alkohol dibandingkan perempuan. Laki-laki bertanggung jawab atas empat dari setiap lima kasus mengemudi di bawah pengaruh obat-obatan atau alkohol.

Lalu mengapa laki-laki memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan alkohol dibandingkan perempuan?

Hal ini sebagian disebabkan oleh pencarian sensasi, yang membuat sebagian pria mencari pengalaman dan perasaan yang bervariasi, baru, kompleks, dan intens. Penerimaan yang lebih tinggi terhadap perilaku berisiko, tekanan teman sebaya, dan peran gender terhadap laki-laki juga mempunyai peran. Meskipun beberapa di antaranya mungkin disebabkan oleh kadar testosteron, sebagian besar disebabkan oleh peran gender yang dipelajari.

  • Menahan Emosi

Banyak stigma yang mengatakan bahwa laki-laki yang menangis dan bersedih adalah laki-laki yang lemah, laki-laki tidak boleh menangis. Hal ini menyebabkan laki laki secara umum menyembunyikan emosional mereka, sehingga ditahan secara terus menerus yang akhirnya suatu waktu meledak karena tidak dikeluarkan.

Menahan emosi seperti ini bisa menyebabkan stress dan berakhir tidak sehat, seperti melakukan jalan terakhir yakni bunuh diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *